Kamis, 04 Februari 2010

63 Tahun HMI Berdiri



Pada hari ini genap usia HMI 63 tahun, dimana  hmi telah hidup diatas pundi-pundi perjuangan bangsa ini. 5 Februari 1947 - 5 Februari 2010 merupakan waktu yang paling lama sehingga HMI sebagai Organsasi Independen selalu menyumbangkan pemikirannya terhadap bangsa ini. Seorang Lafran Pane yang mempelopori berdirinya HMI Himpunan Mahasiswa Islam dapatlah kita katakan sebagai organisasi mahasiswa yang kini telah menjadi tertua dan mungkin juga terbesar yang kini masih tetap bertahan dan berperan dalam kompetisi organisasi pengembangan sumber daya manusia. Untuk yang terakhir dapat kita yakini bahwa organisasi yang didirikan dan diprakarsai oleh lafran pane bisa bersikap jumawa. Karena banyak faktor yang bisa membuktikan bahwa organisasi ini telah dan akan selalu menghasilkan manusia yang selalu memikirkan kepentingan bangsa dan memajukan kesejahteraan bangsa ini. Karena sudah sungguh sangat jelas tujuan organisasi ini, yaitu seperti yang termaktub dalam pasal empat Anggaran Dasar, terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernapaskan islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil, makmur yang diridlai Allah Subhanu Wa Taala.

Keyakinan berorganisasi ini bahkan seringkali dalam perkembangan lelucon sosial ini menjadi sub-budaya dalam tata pergaulan sosial masyarakat Indonesia. Bahkan perjalanan kehidupan organisasi HMI sudah menjadi fenomena sosial yang terstruktur. Baik secara politik juga perkembangan pemikirannya. Tentu dalam kehidupan memiliki semangat, ini juga yang terjadi pada tubuh HMI. kadangkala semangat ini menaik juga menurun. Tergantung semangat zaman dan pemaknaan dari para anggota dan pengurusnya untuk menjadikan zaman mereka adalah investasi bagi masa depan mereka.

Bukankan sudah disebutkan tadi bahwa HMI kini sudah menjadi fenomena sosial, yang telah diakui secara sosial, dengan meminjam bahasa Ridwan Saidi, Social Recognition. Maka kehidupannya juga sungguh menarik untuk ditelaah secara singkat dan ringkas.


HMI, organisasi mahasiswa=kelompok strategis

Baiklah kita di sini menegaskan alasan keberadaan maupun kebutuhan akan organisasi ini. Secara historis, lafran pane menginisiasi kebutuhan penyeimbang dari kaum terpelajar Islam untuk ikut serta mempertahankan Negara Kemerdekaan Republik Indonesia. Sementara itu, juga mengisi ruang yang selama ini diisi oleh kaum yang bukan muslim dalam struktur elit terpelajar di Indonesia. Maka, dengan demikian tujuan organisasi ini sudah seharusya diarahkan untuk melahirkan elit-elit mahasiswa yang siap sedia berpikir untuk mewujudkan masyarakat sesuai dengan tatanan sosial yang diinginkan oleh ajaran Islam, suatu masyarakat atau negara yang baldatun thoyyibatun wa robbun ghafur.

Dengan menjadi kelompok strategis, organisasi ditujukan untuk mengisi ruang sosial yang berguna bagi umat dan bangsa sesuai dengan slogannya, HMI adalah kader umat dan kader bangsa. Nah, bagaimana dengan perkembangan zaman yang membutuhkan keseriusan untuk membaca tanda-tanda khasnya. Kebutuhan zaman hanya bisa dikenali melalui proses sosial yang berkembang pada masyarakat. maka seringkali kita mengatakan bahwa setiap zaman mempunyai ikonnya sendiri. Secara singkat dan ringkas kita bahasakan bahwa rpogram pengkaderan HMI harus mampu melahirkan kader-kadernya menjadi manusia zaman. Sehingga program-program pembinannya selalu menyertai pembacaan zaman, tidak menjadi seorang manusia yang ahistoris. Dengan demikian kader-kader HMI tidak gamang atas perubahan yang terjadi disekelilingnya. Dia, mahasiswa, yang selalu menjadi pemimpin dan pembentuk pola kehidupan. Bukan hanya puas dengan menjadi pengikut.

Pemahaman kader HMI harus memiliki kedalaman dan ketajaman, sehingga mampu memberikan pencerahan bagi umat. Apa yang dimaksud dengan Kuntowijoyo sebagai nilai kenabian, maka seorang mahasiswa yang aktif di HMI harus mampu menangkap pesan dari peran maupun fungsi nabi yang diutus Tuhan untuk melakukan pencerahan bagi umatnya. Fungsi dan kegunaan seorang mahasiswa pada akhirnya menjadikan ia pemimpin bagi umatnya. Pemaknaan ini juga diiniasiasi oleh Nurcholish Madjid sebagai kesadaran Rabbaniyah. Kesadaran yang harus dimiliki oleh manusia untuk menjadikan dirinya berguna bagi manusia lainnya.
Maka dengan demikian mahasiswa yang tergabung dalam HMI harus menjadikan dirinya pelopor dalam segala bidang yang menuju kebaikan, amar ma'ruf. Juga selalu menjadi yang terdepan untuk mencegah kemungkaran, nahiy mungkar. Peran kejuangan ini sungguh menjadikan dirinya dan kehidupannya menjadi sakral di tengah kehidupan mahasiswa yang semakin pragmatis, materialis dan hedonis. Profanisasi kehidupan yang menjadi gejala destruktif dewasa ini dapat terbendung dengan melahirkan manusia yang masih mempertahankan nilai-nilai sakral keislaman dalam pemaknaan kehidupan.


Menyegarkan pemahaman keindonesiaan

Dalam perjalanannya, HMI dengan dinamika internal organisasi mampu menjadi yang terdepan untuk mempertahankan keutuhan negara ini. Kita tentu mengingat bahwa peran kepeloporan HMI dalam membentuk arah perjalanan bangsa ini, Setidaknya mampu melahirkan kelompok pemikir pembaharu Islam yang cukup disegani, sekelompok pemberdaya masyarakat, sekelompok birokrat yang mampu mengisi ruang maupun peran strategis bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Di sinilah perlu ditekankan peran dari pengkaderan HMI yang dimaksudkan Ridwan Saidi sebagai Fenomena sosial yang telah mendapatkan social recognition, bahkan lebih ekstrem lagi telah menjadi fenomena sub-budaya baru dalam struktur sosial maupun budaya di indonesia.

Akan tetapi kini peran kejuangan dan kepeloporan dari kader HMI dipertanyakan dalam mewujudkan masyarakat adil dan makmur. Ironisnya pertanyaan itu sengaja dimunculkan di tengah posisi strategis alumninya di masyarakat sosial dan masyarakat politik, baik menjadi posisi formal pemeritahan yang strategis maupun posisi yang nonformal tetapi juga sangat staregis.

Pertanyaan itu wajar saja timbul ketika harapan masyarakat pada organisasi ini tidak pernah surut, meskipun lambat laun masyarakat akan melupakan organisasi ini ketika sudah tidak lagi memperjuangkan kepentingan-kepentingan umat berdasarkan sifat organisasinya, independen. Keindependensian ini menjadi kekuatan sehingga menjaga stamina kritis mahasiswa sebagai kelompok terpelajar dengan melihat kenyataan sosial seperti adanya berdasarkan kaca mata akademik dengan latar keislamannya.

Maka, apabila menurut HMI kenyataan sosial itu justru sangat bertolak belakang dengan tujuan yang ingin dicapai berdasarkan nilai keislaman. Maka ia harus menjadi terdepan untuk meneriakkan dan merumuskan jalan keluarnya. Sekali lagi ruhnya adalah kaca mata akademik dan keberpihakannya pada kaum yang tertindas dalam rangka mewujudkan masyarakat adil dan makmur.

Maka disinilah paham keislaman HMI selalu mengkonfirmasi perjalanan keindonesiaan untuk menjalankan amanah konstitusi dan janji kemerdekaan seperti yang termaktub dalam Pembukaan UUD 1945. Seperti halnya pemberantasan korupsi yang sedang menjadi perhatian utama bangsa ini, bagi kader HMI, ketika korupsi ini dibiarkan terjadi maka janji kemerdekaan akan semakin jauh untuk diwujudkan dan kader akhirnya membiarkan penindasan kemanusiaan terjadi. Oleh karena itulah, bagi HMI pemberantasan korupsi adalah semangat zaman untuk menjadi pelopor dalam menciptakan Indonesia bersih sehingga terwujud masyarakat adil, makmur yang diridhai Allah SWT.

Penulis : Ahmad Nasir Siregar, Sekretaris Jenderal PB HMI

Senin, 01 Februari 2010



Prof.Drs.H. LAFRAN PANE; GENERASI KETIGA INTELIGENSIA MUSLIM INDONESIA

Almarhum Prof.Drs.H.Lafran Pane (Wafat 25 Januari 1991) adalah tokoh pemrakarsa pendiri Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan pemrakarsa proklamasi, namun hanya masyarakat terbatas yang mengenalnya.

Yudi Latif, Lulusan (S-3) Australian National University (ANU) dalam bukunya "Intelegensia Muslim dan Kuasa: Genealogi Inteligensia Muslim Indonesia Abad Ke-20,hal 502 menyebutkan : Lafran Pane sebagai generasi ketiga inteligensia muslim Indonesia setelah generasi pertama (Tjokroaminoto, Agus Salim,dll), generasi kedua (M. Natsir, M. Roem dan Kasman Singodimedjo pada 1950-an), generasi keempat (Nurcholish Majid, Imadudin Abdurrahim dan Djohan Efendi pada 1970-an).

Lafran Pane lahir di kampung Pagurabaan, Kecamatan Sipirok, yang terletak di kaki gunung Sibual-Bual, 38 kilometer kearah utara dari Padang Sidempuan, Ibu kota kabupaten Tapanuli Selatan. Sebenarnya Lafran Pane lahir di Padangsidempuan 5 Februari 1922. Untuk menghindari berbagai macam tafsiran, karena bertepatan dengan berdirinya HMI Lafran Pane mengubah tanggal lahirnya menjadi 12 April 1923.

Beliau adalah adik dari tokoh sejarawan terkemuka di Indonesia yaitu Sanusi Pane dan tokoh pujangga baru Armijn Pane, Ayahnya bernama Sutan Pangurabaan Pane adalah tokoh Partai Indonesia (PARTINDO) di Sumatera Utara. Sebelum masuk Sekolah Tinggi Islam (STI) latar belakang pendidikan yang utama dari Lafran Pane adalah Pesantren, HIS, MULO, dan AMS Muhammadiyah. Dia juga pernah belajar disekolah-sekolah nasionalis, seperti Taman Aksara di Sipirok dan Taman Siswa di Medan (Agussalim Sitompul 1976).

Sebelum tamat dari STI Lafran pindah ke Akademi Ilmu Politik (AIP) pada bulan April 1948. Setelah Universitas Gajah Mada (UGM) dinegerikan tanggal 19 desember 1949, dan AIP dimasukkan dalam fakultas Hukum, ekonomi, sosial politik (HESP). Dalam sejarah Universitas Gajah Mada (UGM), Lafran termasuk dalam mahasiswa-mahasiswa yang pertama mencapai gelar sarjana, yaitu tanggal 26 januari 1953. Dengan sendirinya Drs. Lafran pane menjadi Sarjana Ilmu Politik yang pertama di Indonesia.

Mengenai Lafran Pane Sujoko Prasodjo dalam sebuah artikelnya di majalah Media nomor : 7 Thn. III. Rajab 1376 H/ Februari 1957, menuliskan :" Sesungguhnya, tahun-tahun permulaan riwayat HMI adalah hampir identik dengan sebagian kehidupan Lafran Pane sendiri. Karena dialah yang punya andil terbanyak pada mula kelahiran HMI, kalau tidak boleh kita katakan sebagai tokoh pendiri utamanya".
Semasa di STI inilah Lafran Pane mendirikan Himpunan Mahasiswa Islam (hari rabu pon, 14 Rabiul Awal 1366 H /5 Februari 1947 pukul 16.00). HMI merupakan organisasi mahasiswa yang berlabelkan "islam" pertama di Indonesia dengan dua tujuan dasar. Pertama, Mempertahankan Negara Republik Indonesia dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia. Kedua, Menegakkan dan mengembangkan ajaran agama Islam. Dua tujuan inilah yang kelak menjadi pondasi dasar gerakan HMI sebagai organisasi maupun individu-individu yang pernah dikader di HMI.
Jika dinilai dari perspektif hari ini, pandangan nasionalistik rumusan tujuan tersebut barangkali tidak tampak luar biasa. Namun jika dinilai dari standar tujuan organisasi-organisasi Islam pada masa itu, tujuan nasionalistik HMI itu memberikan sebuah pengakuan bahwa Islam dan Keindonesiaan tidaklah berlawanan, tetapi berjalin berkelindan. Dengan kata lain Islam harus mampu beradaptasi dengan Indonesia, bukan sebaliknya.

Dalam rangka mensosialisasikan gagasan keislaman-keindonesiaanya. Pada Kongres Muslimin Indonesia (KMI) 20-25 Desember 1949 di Yogyakarta yang dihadiri oleh 185 organisasi alim ulama dan Intelegensia seluruh Indonesia, Lafran Pane menulis sebuah artikel dalam pedoman lengkap kongres KMI (Yogyakarta, Panitia Pusat KMI Bagian Penerangan, 1949, hal 56). Artikel tersebut berjudul "Keadaan dan Kemungkinan Kebudayaan Islam di Indonesia".

Dalam tulisan tersebut Lafran membagi masyarakat islam menjadi 4 kelompok. Pertama, golongan awam , yaitu mereka yang mengamalkan ajaran islam itu sebagai kewajiban yang diadatkan seperti upacara kawin, mati dan selamatan.
Kedua, golongan alim ulama dan pengikut-pengikutnya yang ingin agama islam dipraktekan sesuai dengan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad S.A.W.
Ketiga, golongan alim ulama dan pengikutnya yang terpengaruh oleh mistik. Pengaruh mistik ini menyebabkan mereka berpandangan bahwa hidup hanyalah untuk akhirat saja. Mereka tidak begitu memikirkan lagi kehidupan dunia (ekonomi, politik, pendidikan).
Sedangkan golongan keempat adalah golongan kecil yang mecoba menyesuaikan diri dengan kemauan zaman, selaras dengan wujud dan hakikat agama Islam. Mereka berusaha, supaya agama itu benar-benar dapat dipraktekan dalam masyarakat Indonesia sekarang ini.

Lafran sendiri meyakini bahwa agama islam dapat memenuhi keperluan-keperluan manusia pada segala waktu dan tempat, artinya dapat menselaraskan diri dengan keadaan dan keperluan masyarakat dimanapun juga. Adanya bermacam-macam bangsa yang berbeda-beda masyarakatnya, yang terganting pada faktor alam, kebiasaan, dan lain-lain. Maka kebudayaan islam dapat diselaraskan dengan masyarakat masing-masing.

Sebagai muslim dan warga Negara Republik Indonesia, Lafran juga menunjukan semangat nasionalismenya. Dalam kesempatan lain, pada pidato pengukuhan Lafran Pane sebagai Guru Besar dalam mata pelajaran Ilmu Tata Negara pada Fakultas Keguruan Ilmu Sosial, IKIP Yogyakarta (sekarang UNY), kamis 16 Juli 1970, Lafran menyebutkan bahwa Pancasila merupakan hal yang tidak bisa berubah. Pancasila harus dipertahankan sebagai dasar Negara Republik Indonesia. Namun ia juga tidak menolak beragam pandangan tentang pancasila, Lafran mengatakan dalam pidatonya:
" Saya termasuk orang yang tidak setuju kalau Pemerintah atau MPR mengadakan interprestasi yang tegar mengenai pancasila ini, karena dengan demikian terikatlah pancasila dengan waktu. Biarkan saja setiap golongan mempunyai interpretasi sendiri-sendiri mengenai pancasila ini. Dan interpretasi golongan tersebut mungkin akan berbeda-beda sesuai dengan perkembangan zaman. Adanya interpretasi yang berbeda-beda menunjukan kemampuan pancasila ini untuk selam-lamanya sebagai dasar (filsafat) Negara ". (hal.6)

Dari tulisan diatas nampak Lafran sangat terbuka terhadap beragam interpretasi terhadap pancasila, termasuk pada Islam. Islam bertumpu pada ajarannya memiliki semangat dan wawasan modern, baik dalam politik, ekonomi, hukum, demokrasi, moral, etika, sosial maupun egalitarianisme. Egalitarianisme ini adalah faktor yang paling fundamental dalam Islam, semua manusia sama tanpa membedakan warna kulit, ras, status sosial-ekonomi.

Wajah islam yang seperti ini selazimnya dapat dibingkai dalam wadah keindonesiaan. Wawasan keislaman dalam wadah keindonesiaan akan sesuai dengan perkembangan waktu dan tempat. Untuk kepentingan manusia kontemporer diseluruh jagat raya ini sebagai rahmatan lil alamin.

Sinkat kata, Lafran Pane Layak dijadikan tokoh nasional bahkan pahlawan nasional. Kerana HMI Organisasi yang didieikannya telag lahir tokoh-tokoh bangsa di negeri ini seperti seperti Dahlan Ranuwiharjo, Deliar Noer, Nurcholish Madjid, Ahmad Syafi Maarif, Kuntowijoyo, Endang Syaifuddin Anshori, Chumaidy Syarif Romas, Agussalim Sitompul, Dawam Rahardjo, Immaduddin Abdurrahim, Ahmad Wahib, Djohan Effendi, Ichlasul Amal, Azyumardi Azra, Fachry Ali, Bahtiar Effendy, dll,
Terdapat juga tokoh-tokoh sosial-ekonomi-politik seperti HMS Mintaredja, M,Sanusi, Bintoro Cokro Aminoto, Ahmad Tirtosudiro, Amir Radjab Batubara, Mar'ie Muhammad, Sulastomo, Ismail Hasan Metareum, Hamzah Haz, Bachtiar Hamzah, Ridwan Saidi, Jusuf Kalla, Amien Rais, Akbar Tanjung, Fahmi Idris, Mahadi Sinambela, Ferry Mursyidan Baldan, Hidayat Nur Wahid, Marwah Daud Ibrahim, Munir SH, Adyaksa Dault, Abdullah Hemahua, Yusril Ihza Mahendra, Syaifullah Yusuf, Bursah Jarnubi, Hamid Awwaluddin, Jimlie Asshiddiqi, Anas Urbaningrum, dan masih banyak lagi.

Sumber; Hariqo Wibawa Satria (Rico Ws)

Template by : kendhin x-template.blogspot.com